Cerita? Menulis?

Bingung. Ketika hasrat untuk menulis dan mengetik serangkaian paragraf hilang ditengah jalan.

.

.

.

Curhatan bersambung (bagian 1)

.

Hai kawan! Sudah lama rasanya sejak pertama kali buat akun ‘wordpress’ ini dan sedihnya, isinya masih kosong.

Jujur, yang pertama kali saya fikirkan ketika buat blog seperti ini adalah uang. Banyak yang menawarkan income dari internet, bukan? –dan dulu saya juga pengangguran.

Tapi makin kesini, saya jadi kepikiran untuk mem-post serangkaian cerita pendek bersambung disini. Entah itu kisah fiksi dengan karakter original atau bahkan fanfiction, kisah fiksi yang karakternya ada didunia nyata.

Saya sebenarnya gak jago merangkai kalimat elok nan cantik disebuah susunan paragraf. Awalnya sih hanya karena hobi membaca. Ya semua diawali hobi kan?

Buku yang pertama kali saya baca itu Hansel and Greetel. Kisah kakak beradik yang diculik nenek sihir untuk dijadikan santapan makan malam. Saya ingat baca buku itu ketika umur 7 tahun.

Tenang, saya dulu gak begitu mengerti akan jalan cerita Hansel and Greetel. Bukan karena saya yang masih polos diumur segitu. Tapi karena ibu saya membelikan buku tersebut dalam bahasa Inggris –plus ibu saya tidak begitu paham akan isi buku tersebut. Jadi pelajaran ya untuk ibu baru, jangan sembarangan beli buku untuk anak! hehehe.

Saya gak ingat buku bahasa Indonesia pertama yang saya baca.(Mungkin belajar A B C adalah buku yang sebenarnya saya baca pertama kali.) Tapi saya ingat. kalau dongeng kakak beradik ciptaan Grimm bersaudara itulah yang saya ‘pelajari’ untuk mulai membaca.

Kesan yang saya dapatkan ketika akhirnya menyelesaikan buku Hansel and Greetel dulu adalah ngeri. Wajar kan, saya baca buku dengan dark theme begitu diumur 7 tahun. Tapi kemudian ada hasrat kecil yang perlahan tumbuh didalam diri saya. Bukan untuk hal jelek kok! Tapi, untuk membuat cerita yang bisa membuat orang merasakan perasaan nyata, persis seperti apa yang dilakukan Grimm bersaudara kepada saya diusia 7 tahun.

Saya merasa terkesan, bagaimana bisa hanya dari sebuah kata-kata seseorang bisa membuat orang lain ketakutan.

Sejak saat itulah saya makin gemar membaca, dan ibu saya makin rajin membawa saya ke toko buku untuk membeli maksimal 5 buku untuk dibawa pulang. Saya ingat dengan beberapa dongeng kegemaran saya seperti Thumbelina, Bapak kelinci, Pinokio, Gadis penjual korek api dan lain-lain. Tapi yang saya dulu beli bukanlah buku dengan gambar-gambar indah disamping tulisan dengan cetakan font besar. Saya dulu hanya membeli buku dongeng tanpa gambar didalamnya. Saya juga mulai membeli Harry Potter (bahkan menonton filmnya!), kumpulan dongeng Indonesia, bahkan sampai buku tentang langitpun saya beli.

Keinginan membaca itu kemudian bercabang menjadi keinginan menulis. Saya sampai sekarang masih terkesan dengan para penulis yang mampu membawa pembaca seakan masuk ke dalam buku.

Usia saya 9 tahun ketika berani menulis setidaknya satu halaman kecil di buku tulis bahasa Indonesia. Ingat kan dulu pelajaran bahasa Indonesia disuruh mengarang cerita?  Itulah pertama kalinya saya menulis sebuah cerita dengan tangan saya sendiri. Menciptakan karakter dengan alur cerita pendek. Saya masih ingat hati saya yang berdebar-debar saat guru bahasa Indonesia saya memuji hasil karya saya didepan kelas. Beberapa teman sebangku bahkan minta dibuatkan cerita untuk mereka baca.

Ketika usia 10 tahun, saya mulai kenal internet. Mulai kenal dengan situs-situs yang memberikan kemudahan membaca. Ibu saya yang sibuk, sudah jarang membawa saya ke toko buku. Jadi, terkadang saya pergi hanya ditemani kakak. Itupun jatah buku yang bisa saya bawa pulang hanya 2 buah.

Di internet, saya mulai browsing penulis-penulis dunia. Meski buku pertama yang saya baca adalah Hansel and Greetel, tapi penulis yang benar-benar saya kagumi dan elukan adalah sosok Hans C. Andersen. Sosok pahlawan bagi para anak-anak yang haus akan cerita sebelum tidur.

Karakter yang Hans C. Andersen ciptakan entah kenapa selalu mengena dihati saya. Seingat saya, dulu juga ada kan dongeng beliau diangkat ke kartun televisi oleh sebuah stasiun tv ternama?

Banyak penulis yang makin menginspirasi saya seiring saya sendiri bertambah umur. Masa-masa SD terlewati, kemudian masuk masa SMP.

Masa dimana saya mulai mengenal sosok idola. Eits, bukan pacar ya!

SMP, saya sudah jarang membaca. Paling hanya membaca manga, atau cerita pendek yang ibu saya sendiri punya. Tingkat rasa bosan saya mulai meninggi. Orang bilang itu perasaan jenuh.

Sayapun mulai mencari pelarian lain. Dan ternyata pelarian itu…

.

.

.

(bersambung ke bag 2)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s